Kandungan
Zat Hara dalam Air Poros dan Air Permukaan
Padang
Lamun Bintan Timur Riau
Jurusan
Ilmu Kelautan, Faperika, Universitas Riau
ABSTRACT
Study on the nutrients content of seagrass bed of
East Bintan was carried out in July and August 2002. The purpose of this
research was to describe the characteristics of nutrients content in porewater
and surface water of seagrass bed. Dissolved ammonia, nitrate or nitrite and
phosphate in the porewater and surface water in seagrass bed were analyzed. The
methods were spectrophotometry. In general, the nutrient in the surface water and
porewater in Sungai Jang estuary was lower compared to that of the open
coastal. The concentrations of nutrient in the porewater was higher than that
surface water of seagrass bed. The ammonia, nitrate/nitrite and phosphate
concentrations amongst that area of segrass bed varied. Physicochemical
parameters (temperature, current velocity, transparance, salinity, pH, and
dissolved oxygen) were also measured.
Keywords: nutrient,
porewater, seagrass, surface water
PENDAHULUAN
Ekosistem
lamun (seagrass) merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang
mempunyai peranan penting dalam kehidupan berbagai biota laut serta merupakan
salah satu ekosistem bahari yang paling produktif. Ekosistem lamun daerah
tropis dikenal tinggi produktivitasnya namun mempunyai kandungan zat hara yang
rendah dalam air permukaan dan tinggi dalam air pori sedimen (pore water).
Kunci utama untuk mengetahui fungsi sistem lamun terletak pada pemahaman
faktor-faktor yang mengatur produksi dan dekomposisi bahan organik. Pertumbuhan,
morfologi, kelimpahan dan produksi primer lamun pada suatu perairan umumnya ditentukan
oleh ketersediaan zat hara fosfat, nitrat dan amonium yang memainkan peranan
penting dalam menentukan fungsi padang lamun (Erftemeijer 1992; Patriquin
1992). Ketersediaan nutrien di perairan padang lamun dapat berperan sebagai
faktor pembatas pertumbuhannya (Hillman et al, 1989; Moriarty & Boon
1989; Hemminga et al, 1991; Erftemeijer 1992; Erftemeijer et al,
1994), sehingga efisiensi daur nutrisi dalam sistemnya akan menjadi sangat
penting untuk memelihara produktivitas primer lamun dan organisme-organisme
autotrofnya (Hillman et al, 1989; Patriquin 1992).
Zat hara fosfat, nitrat dan amonium
diserap oleh lamun melalui daun dan akarnya, namun Short (1987) mengatakan
bahwa penyerapan zat hara melalui daun lamun di daerah tropis sangat kecil bila
dibandingkan dengan penyerapan melalui akar. Di daerah tropis kadar zat hara di
air poros lebih besar dibandingkan dengan di kolom air dan air permukaan
(Erftemeijer 1993; Muchtar 1994 &1999). Penelitian-penelitian di bidang ini
sekarang terus berkembang. Kendati kajian seagrass atau lamun sudah berjalan
relatif lama yaitu sejak tahun tujuh puluhan, namun banyak fenomena menarik
tentang karakteristik kandungan hara dalam air poros dan air permukaan padang
lamun yang belum dimengerti dengan baik. Untuk memperoleh kejelasan ilmiah
fenomena diatas perlu dilakukan kajian yang kuantitatif tentang karakteristik kandungan zat
haranya (amonium, nitrat, nitrit dan fosfat) dalam air poros dan ir permukaan padang
lamun yang tumbuh di perairan Bintan Timur.
Penelitian
ini berusaha engidentifikasi ekosistem lamun
di perairan Bintan Timur Kepulauan Riau, khususnya yang menyangkut ketersediaan
zat hara dalam air poros (air pori sedimen) dan air permukaan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui karakteristik kandungan zat hara (fosfat, amonium, nitrat
dan nitrit) dalam air poros (air pori sedimen) dan air permukaan padang lamun
yang tumbuh pada substrat yang berbeda di perairan Bintan Timur.
Read More...
Klik disini untuk download free: Jurnal Nutrient.doc
Tunggu 5 Detik, Lalu Klik Skip
Read More...
Klik disini untuk download free: Jurnal Nutrient.doc
Tunggu 5 Detik, Lalu Klik Skip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar