Rabu, 30 April 2014

(1) Uji Performansi Turbin Angin Sebagai Penggerak Aerator Di Tambak Udang

Authors: Sitorus, Rijal Bintang
Abstract: 
Letak geografis Indonesia sebagai negara tropis menyebabkan karakteristik angin di Indonesia sangat berbeda dengan karakteristik angin di negara-negara maju yang telah memanfaatkan angin sebagai sumber energinya. Untuk itu perlu mengembangkan teknologi turbin angin sumbu vertikal yang tidak dipengaruhi perubahan arah datangnya angin. Penelitian ini menggunakan model turbin angin sumbu vertikal Darrieus Tipe-H dengan profil sudu NACA 0018,panjang chord (C) 0,4 m, sudut pitch 60 dan jumlah sudu 3 buah. Dimensi turbin angin yaitu diameter (D) 2 m,tinggi (H) 1,5 m dan massa sudu 1,5 kg.Ada 2 buah aerator yang digunakan dalam penelitian ini dengan massa aerator 1,5 kg. Pengujian turbin angin dilakukan pada variasi kecepatan angin yang berasal dari sebuah kipas yaitu 2,2 m/s, 2,6 m/s 3 m/s ; 3,2 m/s, 4 m/s dengan dibebani aerator dan tidak dibebani aerator. Pengujian juga dilakukan di tambak udang dengan kecepatan angin rata-rata 3 m/s. Dari hasil pengujian diperoleh putaran turbin pada saat tidak dibebani aerator dengan variasi kecepatan angin yaitu 12 rpm, 20 rpm, 26 rpm, 30 rpm, 62 rpm dan putaran turbin setelah dibebani aerator yaitu 8 rpm, 12 rpm, 16 rpm, 23 rpm, 56 rpm. Ketika turbin diuji di tambak udang menghasilkan putaran 80 rpm dengan dipasang aerator. Sehingga diperoleh daya turbin secara teori untuk memutar aerator di tambak udang sebesar 7,68 Watt dengan 1 buah aerator terpasang pada kedalaman aerator 2,5 cm dibawah permukaan air.

Abstract (other language): 
The geographical location Indonesia as a tropical country causing wind characteristics in Indonesia is very different from the characteristics of the wind in the developed countries that have made use of wind as an energy source. It is necessary to develop a vertical axis wind turbine technology is not influenced by changes in the direction of the wind. This research use a model of vertical axis wind turbine Darrieus-type H with a blade profile NACA 0018, chord length (C) 0.4 m, the pitch angle of the blade 60 and the amount of 3 pieces. The dimensions of the wind turbine is the diameter (D) 2 m, height (H) of 1.5 m and a mass of 1.5 kg blade. There are 2 pieces of aerators used in this research with a mass of 1.5 kg aerator. Tests carried out on variations of the wind turbine wind speed derived from a fan that is 2.2 m / s, 2.6 m / s 3 m / s, 3.2 m / s, 4 m / s with and not loaded aerator. Testing was also conducted in shrimp ponds with an average wind speed of 3 m / s. From the test results obtained during the turbine wheel aerators are not loaded with the variation of the wind speed is 12 rpm, 20 rpm, 26 rpm, 30 rpm, 62 rpm and turbine rotation aerators are loaded after 8 rpm, 12 rpm, 16 rpm, 23 rpm, 56 rpm. When the turbine was tested in shrimp farms produce 80 rpm rotation with aerator installed. In order to obtain the power to rotate the turbine is theoretically aerator in the shrimp ponds at 7.68 Watt with 1 piece aerator aerator installed at a depth of 2.5 cm below the water surface. *()

Keywords: 
Naca 0018,
Turbin Angin Darrieus-H,
Variasi Kecepatan Angin,
Sudut Pitch

 >>> Silakan Download Disini

Cara Download
(2) Kajian Performansi Mesin Genset Otto 1 Silinder Dengan Bahan Bakar Campuran Premium Dan Super Fuel

Authors: Simbolon, Efrin
Abstract: 
The decreasing availability of fossil fuels led to a variety of ideas how to solve this problem. Super fuel is one of the alternative fuel that can be used in various engine, one of which is a gasoline engine generator sets in 4-stroke. Research done by variation of the lamp and fuel variations . lamp that is used in research is the 100 Watt lamp. The variation of the lamp is 2; 4; 6; 8; 10 and 12. the variations of fuel for the reseacrh is 100% gasoline; 95% gasoline + 5 % super fuel; 90% gasoline + 10% super fuel and 85% gasoline + 15% super fuel . Based on the analysis , it is known that performance a super fuel mixture decreased torque, Specifiic Fuel Consumption (SFC), the thermal efficiency, and Air Fuel Ratio (AFR). But emissions by using a super fuel mixture , can reduced the content of toxic exhaust emissions such as carbon monoxide (CO) and hydrocarbons (HC) . And Residual rate of oxygen (O2) from the super fuel mixture decreased while the rate of carbon dioxide (CO2) have increased compared to 100% gasoline . 

Abstract (other language): 
Semakin berkurangnya bahan bakar minyak menyebabkan timbulnya berbagai pemikiran bagaimana mengatasi permasalahan ini. Super fuel merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan pada berbagai mesin, salah satunya adalah mesin bensin pada generator set 4-langkah. Penelitian dilakukan dengan variasi jumlah bola lampu dan variasi bahan bakar. Bola lampu yang digunakan untuk pengujian yaitu lampu 100 Watt dengan variasi jumlah lampunya 2; 4; 6; 8; 10 dan 12. Sedangkan variasi bahan bakar untuk pengujian yaitu 100% premium; 95% premium + 5% super fuel; 90% premium + 10% super fuel; 85% premium + 15% super fuel. Berdasarkan analisis, diketahui bahwa performansi campuran super fuel mengalami penurunan torsi, Specific Fuel Consumption (SFC), efisiensi termal, dan Air Fuel Ratio (AFR. Tetapi emisi gas buang yang dihasilkan dengan menggunakan campuran super fuel, mampu mereduksi kandungan emisi gas buang beracun seperti karbon monoksida (CO), dan hidrokarbon (HC). Kadar sisa oksigen (O2) dari campuran super fuel mengalami penurunan sedangkan kadar karbon dioksida (CO2) mengalami peningkatan dibanding premium 100%. *()

Keywords:
Fosil Fuels
Super Fuel
Performance
Combustion Engine
Exhaust Emissions

 >>> Silakan Download Disini

Cara Download
(3) Simulasi Performansi Turbin Angin Tipe Darrieus-H Menggunakan Profil  Sudu Naca 4415 Terhadap Variasi Panjang Chord Dan Tip Speed Ratio Dengan Software Cfd

 Authors: Pramono, Indro
Abstract: 
The research of wind turbine has rapidly developed in recent years. Many factors influenced the performance of wind turbine. They are wind velocity, the tower height, rotor diameter, type of airfoils, number of blades, tip speed ratio and efficiency of equipment. Wind turbine modeling with all variations spends much cost while the result can’t be known definitely. The utilizing of CFD software as a tool to analyze wind turbine make it possible to get the good result . The goal of this experiment is to find the effect of variation at airfoil length and tip speed ratio to performance of wind turbine by simulating with CFD software. This model is two dimensions with 1,55 m diameter of wind turbine at rotating region while the outer boundary is 3 x 6 m. The rotating region’s area is connected with the outer boundary by utilizing mesh interface. NACA 4415 is used as the airfoil. Three blades are used for this model. The wind velocity is 5 m/s. The chord variation are 30 cm,45 cm, 60 cm and 75 cm. The variation of tip speed ratio are 0.5 , 1 , 1.5 , 2. The result of simulation showed that the highest coefficient of performance reached for 75 cm chord length at TSR 2 with 58,88% while the lowest coefficient of performance reached for 30 cm chord length at TSR 0,5.

Abstract (other language): 
Penelitian tentang turbin angin berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa faktor yang mempengaruhi performansi turbin angin adalah kecepatan angin, tinggi menara, diameter rotor, jenis airfoil yang digunakan pada rotor, jumlah sudu, tip speed ratio, efisiensi transmisi serta efisiensi generator. Pembuatan model dengan semua variasi tersebut akan menghabiskan biaya yang cukup besar sementara hasilnya tidak dapat ditentukan secara pasti. Penggunaan software CFD sebagai alat untuk meneliti turbin angin memungkinkan untuk mendapatkan tujuan perancangan tanpa harus membuat model sebenarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variasi panjang chord sudu dan tip speed ratio terhadap performansi turbin angin dengan mensimulasikannya dengan menggunakan software CFD . Turbin angin yang disimulasi berupa rotor 2D dengan diameter 1,55 m pada daerah rotating region sedangkan boundary luar berukuran 3 x 6 m. Rotating region dihubungkan dengan boundary luar dengan melalui mesh interface. Airfoil yang dipakai adalah NACA 4415. Jumlah sudu sebanyak 3 buah. Kecepatan angin yang digunakan pada simulasi adalah 5 m/s.Variasi panjang chord sudu yang digunakan adalah 30 cm, 45 cm, 60 cm dan 75 cm. Variasi tip speed ratio yang digunakan yaitu 0,5 , 1, 1,5 dan 2. Hasil simulasi menunjukkan koefisien daya untuk panjang chord sudu 75 cm dan TSR 2 memiliki efisiensi tertinggi yaitu 0,5888 atau 58,88% sementara untuk koefisien daya terendah dihasilkan untuk panjang chord 30 cm dan TSR 0,5 yaitu 0,317857412 atau 31,79%.*()

Keywords: 
Darrieus-H wind turbine
NACA 4415
Rotating Region
Mesh Interface
 
 >>> Silakan Download Disini

Cara Download

Senin, 28 April 2014

(8) Uji Performansi Turbin Vortex Dengan Pengaruh Variasi Dimensi Sudu Dan Analisa Perbandingan Menggunakan Variasi Saluran Buang.

Authors: Sihombing, Saudara Very Nando
Abstract: 
Turbin vortex adalah turbin yang memanfaatkan pusaran air sebagai penggerak sudu turbin dengan head yang rendah dan bisa digunakan pada aliran sungai. Pada penelitian ini digunakan 3 dimensi sudu yang berbeda dengan bentuk casing lingkaran dan memiliki 3 variasi saluran buang. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan pompa sebagai sirkulator air dan menggunakan talang sebagai saluran masuk rumah turbin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sudu dengan ukuran ke-2 memiliki efisiensi lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran sudu yang lainnya dengan diameter saluran buang 7cm. *()

Keywords: 
Turbin Vortex
Variasi Dimensi Sudu
Variasi Saluran Buang


 >>> Silakan Download Disini

Cara Download
(9) Studi Kekuatan Tarik Las Dari Bahan Plat dasar Aluminium - Magnesium

Authors: Kurniawan, Andi
Abstract: 
Aluminum is a silvery white metal that is weak and soft, but when combined with a number of other such metallic elements (Mg, Cu, Si) can increase the strength of aluminum. Because the aluminum alloy weldability properties have relatively low when done handling TIG welding for aluminum alloy so they will obtain good welding results. This is a study made by adding magnesium into aluminum undertaken in accordance variation is 2%, 4% and 6% when the element magnesium casting. After tensile testing was carried out and the micro picture. This research aims to study the tensile strength of the TIG welded joints in aluminum alloys. The test results showed that the optimum tensile strength is the composition of 94% aluminum and 6% magnesium with the following characteristics: 199 N/mm2, 4.2% elongation. Black on microstructure results indicating Magnesium and aluminum is a silvery white color. Increasing addition of magnesium to aluminum elements, then its power is also increasin.

Abstract (other language): 
Aluminium merupakan logam putih keperakan yang lemah dan lunak, tetapi bila dipadukan dengan sejumlah unsur logam lain seperti ( Mg, Cu, Si) dapat meningkatkan kekuatan dari aluminium. Karena paduan aluminium mempunyai sifat mampu las yang relatif rendah bila dilkukan penanganan las TIG terhadap aluminium paduan sehingga nantinya akan diperoleh hasil pengelasan yang baik. Penelitian yang dibuat ini adalah dengan menambahkan magnesium kedalam aluminium sesuai variasi yang dikerjakan yaitu 2%, 4% dan 6% unsur magnesium saat pengecoran. Setalah itu dilakukan pengujian tarik dan foto mikro. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kekuatan tarik pada sambungan las TIG pada aluminium paduan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekuatan tarik yang optimum adalah pada komposisi 94 % aluminium dan 6 % magnesium dengan karakteristik sebagai berikut: 199 N/mm2, elongasi 4.2 %. Pada hasil mikrostruktur berwarna hitam yang menunjukkan Magnesium dan warna putih keperakan merupakan aluminium. Semakin meningkat penambahan unsur magnesium terhadap aluminium, maka semakin meningkat juga kekuatan tariknya.*()

Keywords: 
Las TIG
Aluminium
Sifat Mekanis
Foto Mikro

 >>> Silakan Download Disini

Cara Download
 
(10) Perancangan Tabung Impedansi Dan Kajian Eksperimental Koefisien Absorpsi Paduan Aluminium-Magnesium.

Authors: Asade, Felix
Abstract: 
People do not like noise. By definition, it is unwanted sound. Noise control play an important role in creating an acoustically pleasing environtment. This can be achieved when the intensity of sound is brought down to a level that is not harmful to human ears. Achieving a pleasing environment can be obtained by using various techniques. One such technique is by absorbing the sound. This paper review how the influence by adding magnesium can change the absorption behavior of aluminium. So that aluminium-magnesium alloy can be used as acoustic materials to reduce noise. The result showed the increase of sound absorption value as the composition of magnesium increased. Sound absorption coeficient of aluminium-magnesium alloy show a good result in the middle and higher frequency.

Abstract (other language): 
Manusia tidak suka akan kebisingan. Kebisingan didefinisikan sebagai suara yang tidak diinginkan. Teknik pengendalian kebisingan memainkan peranan penting untuk menciptakan suasana lingkungan akustik yang nyaman. Ini dapat tercapai ketika intensitas suara diturunkan ke level yang tidak mengganggu pendengaran manusia. Pencapaian lingkungan akustik yang nyaman ini dapat diperoleh dengan menggunakan beragam tehnik. Salah satu tehnik tersebut adalah dengan menyerap suara. Penilitian ini menunjukkan bagaimana pengaruh penambahan magnesium terhadap sifat penyerapan suara dari aluminium. Sehingga paduan aluminium-magnesium ini dapat dijadikan sebagai material akustik untuk penanggulangan kebisingan. Hasil penilitian ini menunjukkan peningkatan nilai penyerapan suara dengan bertambahnya kandungan magnesium. Nilai koefisien absorpsi paling baik pada paduan aluminium-magnesium terjadi pada frekuensi menengah dan tinggi.*()

Keywords:
Impedance Tube
Sound Absorption Coefficient
Acoustic Materials
Aluminium-Magnesium

 >>> Silakan Download Disini

Cara Download

(11) Kajian Eksperimental Pengukuran Transmission Loss dari Paduan Aluminium-Magnesium Menggunakan Metode Impedance Tube

Authors: Rozzy, Fahrul

Abstract:
One effort that can be done to reduce the noise is to use material that is absorbing acoustic or muffle the sound so loud that occur can be reduced. The main objective of this study was to determine the basic characteristics of the transmission loss of acoustic material aluminum-magnesium alloy. The variable in this study is the change in the composition of the aluminum-magnesium alloy material with a composition of 98% alloy Al-Mg 2%, 96% Al-4% Mg and Al-Mg 94% 6% for the acoustic characteristics and then tested using the impedance tube. From the research that has been done can be concluded that the value of the high transmission loss found in alloy Al-98% Mg 2% at a frequency of 1500 Hz is 45.0191 dB. Value of the low-loss transmission contained in the alloy Al-Mg 94% 6% at a frequency of 125 Hz is 20.7008 dB. Frequency value of the best in the insulation material of Al-Mg alloys for each composition is at a frequency of 1500 Hz at a frequency which is obtained maximum value of transmission loss. Al-Mg alloy composition is best for sound proofing obtained on the composition of Al-98% Mg 2% with a value of 35.8714 dB STC. The greater the value of the STC, the better the material's ability to sound proofing.

Abstract (other language): 
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mereduksi bising adalah dengan penggunaan material akustik yang bersifat menyerap atau meredam bunyi sehingga bising yang terjadi dapat direduksi. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dasar mengenai transmission loss material akustik dari paduan aluminium-magnesium. Variabel dalam penelitian ini adalah perubahan komposisi material paduan aluminum-magnesium dengan komposisi paduan Al 98%-Mg 2%, Al 96%-Mg 4% dan Al 94%-Mg 6% untuk kemudian diuji karakteristik akustiknya dengan menggunakan metode impedance tube. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa nilai transmission loss yang paling tinggi terdapat pada paduan Al 98%-Mg 2% pada frekuensi 1500 Hz yaitu 45.0191 dB. Nilai transmission loss yang paling rendah terdapat pada paduan Al 94%-Mg 6% pada frekuensi 125 Hz yaitu 20.7008 dB. Nilai frekuensi yang terbaik di insulasi material paduan Al-Mg untuk masing-masing komposisi adalah pada frekuensi 1500 Hz dimana pada frekuensi tersebut didapat nilai transmission loss maksimum. Komposisi paduan Al-Mg yang paling baik untuk menginsulasi suara didapat pada komposisi Al 98%-Mg 2% dengan nilai STC sebesar 35.8714 dB.*()

Keywords: 
Acoustic Material
Aluminum-Magnesium
Transmission Loss
Impedance Tube

 >>> Silakan Download Disini

Cara Download
 
(12) Analisa Kerusakan Pada Pompa Vertikal Tipe Tait Model 15 Bch-3 Dengan Kapasitas 150 L/J Di Pdam Tirtanadi Sunggal


Authors: Baringbing, Henri M.
Abstract: 
In writing this thesis, the research object is about damage analysis and maintenance management tait type vertical pump models 15 BCH-3 with a capacity of 150 l / s in Tirtanadi Sunggal. Pump maintenance is done in order to maintain the smooth process to distribute water throughout the community who were around Tirtanadi Sunggal. In this paper the goal is to determine the extent of the damage and the cost pemelihan on vertical vertical pump types tait 15 BCH-3 models with a capacity of 150 l / s in Tirtanadi Sunggal. therefore, the authors conducted a study that is the first unit of the vertical pump types tait 15 BCH-3 models with a capacity of 150 l / s in Tirtanadi Sunggal survey taken by taking to the field in which the rotation of 1470 rpm and the data can be calculated sfesifikasi pump damage and costs at the pump. It can be concluded that the magnitude of the vertical pump total head that the pump must be served is 0,034 meters. While the pump NPSH is 7.38 m. And also obtained the minimum cost for a treatment that saves operating costs. Preventive maintenance on the impeller save operating costs by 28.03% more efficient than without preventive maintanance, as well as the 23:29% savings shaft, the bearing savings on packing 36.23% and 34.53% operating costs more efficient. This shows that in one of the pumps that play an important role is sentrifigal pump vertical pump types that exist in the Finis Water Pump (FWP) or where raw materials / raw water to be delivered / distributed to units throughout the community. In terms of construction and work ability of this pump is suitable for pumping raw water to a treatment plant with a capacity large enough, in terms of construction, installation and placement is also very nice to use because it is not in terms of ability, but in terms of care and cost very efficient.

Abstract (other language):
Dalam penulisan Skripsi ini, yang menjadi objek penelitian adalah tentang analisa kerusakan dan manajemen pemeliharaan pompa vertikal tipe tait model 15 BCH-3 dengan kapasitas 150 l/s di PDAM Tirtanadi Sunggal. Pemeliharaan pompa dilakukan dalam upaya menjaga kelancaran proses untuk mendistribusikan air keseluruh masyarakat yang berada di sekitar PDAM Tirtanadi Sunggal. Dalam penulisan ini tujuannya adalah untuk mengetahui seberapa besar kerusakan dan biaya pemelihan pada pompa vertikal vertikal tipe tait model 15 BCH-3 dengan kapasitas 150 l/s di PDAM Tirtanadi Sunggal. oleh karena itu penulis melakukan penelitian yaitu pada 1 unit pompa vertikal tipe tait model 15 BCH-3 dengan kapasitas 150 l/s di PDAM Tirtanadi Sunggal yang diambil dengan mengambil survey ke lapangan dimana putarannya 1470 rpm dan dari data sfesifikasi pompa tersebut dapat dihitung kerusakan dan biaya pada pompa. Maka dapat disimpulkan bahwa pada pompa vertikal besarnya head total yang harus dilayani pompa adalah 0,034 meter. Sedangkan NPSH pada pompa adalah 7,38 m. Dan juga didapat minimum cost selama perawatan yang menghemat biaya operasi. Perawatan preventive pada impeller menghemat biaya operasional sebesar 28.03% lebih hemat dibandingkan tanpa preventive maintanance, begitu juga pada shaft menghemat biaya 23.29%, pada bearing menghemat biaya 36.23% dan packing menghemat biaya operasional 34.53% lebih hemat. Hal ini menunjukkan bahwa dalam salah satu pompa yang memegang peranan penting adalah pompa sentrifigal jenis pompa vertikal yang ada di Finis Water Pump (FWP) atau tempat bahan baku/air baku yang akan dikirimkan/didistribusikan ke unit seluruh masyarakat. Dari segi kontruksi dan kemampuan kerja dari pompa ini sangat cocok digunakan untuk memompakan air baku ke unit pengolahan dengan kapasitas yang cukup besar, dari segi kontruksi, pemasangan dan penempatan juga sangat bagus untuk digunakan. *()

Keywords: 
Pump
Wear
Cost
Cavitation

>>> Silakan Download Disini

Cara Download

Sabtu, 26 April 2014

(13) Variasi Komposisi Blowing Agent terhadap Kekuatan Material Beton Ringan (Concrete Matrix ) Yang diperkuat Serat Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) Akibat Beban Statik.

Authors: Sembiring, Sony Arapen
Abstract: 
Komposit diperkuat serat adalah material non-logam yang mempunyai banyak keuntungan karena sifat fisis dan mekanis yang baik. Salah satu sifat yang dominan adalah memiliki berat jenis yang ringan dan relatif kuat. Pemakaian blowing agent membuat material ini menjadi lebih ringan lagi. Material yang dibentuk dikenal dengan istilah material komposit polymeric foam (PF). Sebagai penguat penelitian ini menggunakan serat alam yang didapat dari pengolahan serat tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Hasilnya, untuk parking bumper diperoleh gaya tekan maksimum sebesar 2754,35 N. Untuk uji tekan statik diperoleh massa jenis adalah 0,6.10-6 kg/mm3, kekuatan tekan sebesar 2,1004 MPa, modulus elastisitas sebesar 9,658 MPa. Sedangkan untuk brazilian test adalah massa jenis adalah 0,6.10-6 kg/mm3, kekuatan tekan sebesar 0,542 MPa, modulus elastisitas sebesar 0,75 MPa. Dan jenis kegagalan yang terjadi pada spesimen uji tekan statik adalah kegagalan geser dengan arah sudut patah atau retak 450 pada arah beban, yang ditandai dengan adanya daerah lipatan pada permukaan spesimen. Sedangkan jenis kegagalan yang terjadi pada spesimen brazilian test adalah gagal dengan cara patah rapuh, yang ditandai dengan laju retak yang cepat tanpa adanya tanda tanda deformasi awal dan tidak adanya deformasi pada daerah kepatahan.*()

Keywords: 
Variasi Komposisi Blowing Agent
Beton Ringan ( Concrete Matrix )
Beban Statik
Serat Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS).


 >>>> Silakan Download Disini

Cara Download
 
(4)Uji Performansi Turbin Angin Tipe Darrieus-H Dengan Profil Sudu Naca 0012 Dan Analisa Perbandingan Efisiensi Menggunakan Variasi Jumlah Sudu Dan Sudut Pitch

Authors: Napitupulu, Ekawira K
Abstract: 
Objek dalam penelitian ini adalah turbin angin Darrieus-H dengan profil sudu NACA 0012 dengan panjang chord 0.3 m. Dimensi turbin ini yaitu dengan diameter (D) 1.5 m dan tinggi (H) 1.5 m. Adapun variasi yang digunakan dalam pengujian ini adalah variasi jumlah sudu (3, 4 dan 5 buah) dan variasi sudut pitch sudu (00, 20, 40, 60, 80, 100, 120). Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah sudu dan pengaruh sudut pitch terhadap performansi turbin angin Darrieus-H. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan serangkaian pengujian turbin angin pada kecepatan angin 3,85 m/s. Angin ini dibangkitkan oleh sebuah kipas yang ditempatkan pada jarak 5 m dari turbin. Dari hasil pengujian diperoleh bahwa turbin angin dengan jumlah sudu 3 buah lebih efektif dalam mengekstrak energi angin, untuk jumlah sudu 3, 4 dan 5 buah dengan efisiensi masing-masing 15,91%; 12,14% dan 11,49%. Sedangkan dari variasi sudut pitch sudu diperoleh bahwa turbin angin dengan jumlah sudu 3, 4 dan 5 buah lebih efektif dalam mengekstrak energi angin pada sudut pitch p = 60. *()

Keywords:  
Turbin Darrieus-H
NACA 0012
Jumlah Sudu
Sudut Pitch

 >>>> Silakan Download Disini

cara download
(5)Uji Performansi Turbin Angin Tipe Darrieus-H Dengan Profil Sudu Naca 0018 Dan Analisa Perbandingan Efisiensi Menggunakan Variasi Jumlah Sudu Dan Sudut Pitch

Authors: Sijabat, Libert
Abstract: 
Turbin angin merupakan mesin dengan sudu berputar yang mengonversikan energi kinetik angin menjadi energi mekanik. Turbin angin Darrieus H merupakan salah satu jenis turbin angin sumbu vertikal yang memanfaatkan lift force saat mengekstrak energi kinetik angin, sehingga semakin besar lift force sudu rotor turbin maka efisiensi sudu semakin besar. Objek penelitian ini adalah turbin angin Darrieus H dengan variasi jumlah sudu dan sudut pitch. Adapun profil sudu yaitu sudu airfoil NACA 0018 dengan jumlah sudu 3, ,4 dan 5. Diameter dan tinggi rotor turbin ini adalah 1,5m dan 1,5 m Pada pengujian ini, variasi sudut pitch adalah 00, 20, 40, 60, 80, 100, dan 120. Hasil pengujian dengan menggunakan jumlah sudu 3 lebih efektif dari jumlah sudu 4 dan 5. Jumlah sudu 3, 4 dan 6 masing - masing memiliki efisiensi pada tip speed ratio yaitu rj = 16,56 %, A = 0,79; rj = 16,18 %, A = 0,77; dan rj = 13,03 %, A = 0,69. Dari variasi sudut pitch sudu diperoleh bahwa turbin angin dengan jumlah sudu 3 dan 4 buah lebih efektif dalam mengekstrak energi angin pada sudut pitch p = 60, sedangkan turbin angin jumlah sudu 5 buah lebih efektif dalam mengekstrak energi angin pada sudut pitch p = 60. Daya dan putaran poros turbin untuk masing - masing jumlah sudu dan sudut pitch telah diperhitungkan dalam koefisien daya dan tip speed ratio.*()

Keywords:  
Turbin Angin Darrieus H
Sudu
Kecepatan Angin
Tip Speed Ratio
Efisiensi

 >>>> Silakan Download Disini

cara download
(6) Uji Performansi Turbin Angin Tipe Darrieus-H Dengan Profil Sudu Naca 4415 dan analisa perbandingan menggunakan variasi jumlah sudu dan sudut PITCW.

Authors: Sitepu, Andinata
Abstract: 
Turbin angin Vertikal Axis tipe Darrieus H dapat mengekstrak angin dari segala arah dan dapat digunakan pada kecepatan angin yang relatif rendah yang merupakan pertimbangan untuk mekakukan penelitian ini dengan kondisi angin di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah sudu dan pengaruh sudut pitch terhadap daya dan putaran turbin angin tipe Darrieus H. Jumlah sudu yang digunakan pada pengujian ini adalah 3, 4, 5. Jenis airfoil yang digunakan adalah airfoil NACA 4415 dengan panjang chord 30 cm dengan kecepatan angin pada pengujian adalah 3,85 m/s, dan sudut pitch sudu yang diuji mulai dari 0°, 2°, 4°, 6°, 8°, 10°,12°. Dengan kecepatan angin 3,85 m/s turbin ini dapat diaplikasikan di provinsi Nusa Tenggara Timur kabupaten Sumba Timur di daerah Kamanggih. Langkah langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pembuatan dan pengujian turbin dengan mengkopel dengan generator listrik tipe aksial dengan jumlah kutub 24 buah. Dari data hasil pengujian turbin angin Darrieus H dengan bentuk sudu airfoil NACA 4415 menghasilkan efisiensi maksimal sebesar 11.37%, 12.19%, 14,69% pada beban bola lampu 10 Watt yaitu dengan jumlah sudu masing masing 3, 4, 5 buah dan efisiensi maksimal ini didapat pada saat sudut pitch sudu turbin diatur sebesar 8 0. Dengan besar daya turbin maksimal yang dihasilkan turbin dengan jumlah sudu 3 buah sebesar 8, 46 Watt, untuk jumlah sudu 4 buah didapat daya maksimal sebesar 9, 07 Watt, dan pada turbin dengan jumlah sudu 5 buah didapat daya maksimal sebesar 10, 93 Watt.*()

Keywords: 
Turbin Angin Darrieus H,
Airfoil NACA 4415,
Sudut Pitch,
Jumlah Sudu

>>>> Silakan Download Disini

cara download
(15) Simulasi Dan Eksperimental Gaya Pemotongan Mata Pisau Alat Pemanen Sawit.

Authors: Daniansyah
Abstract: 
Been done simulation and experimental knife harvester oil palm to determine the most optimal force be applicable in the harvesting of palm. Knife harvester oil palm is a tool used to cut bunches and palm midrib. Cutting process requires cutting force, angle cut, and cutting distance with palm trunks. design blade palm harvester in the design using solidworks 2011 and simulate the stress distribution with software ansys workbench 14.5. Force measurements of harvesting on two research object extraction in the District Mandailing Natal and the University of North Sumatera. Results of cutting force obtained in Mandailing Natal harvest cutting bunches minimum strength 569 KgF, maximum 951 KgF, and average 799,1 KgF. The style cut midrib minimum 981 KgF, maximum 1657,9 KgF, and average 1354,4 KgF. Style cut harvesting in North Sumatra University obtained the minimum cutting force bunches 952 KgF, maximum 1079 KgF, and average 1018 KgF. The style cut midrib minimum 1864 KgF, maximum 2286, and average 2006 KgF. Measurements minimum cross-sectional area bunches in Mandailing Natal Regency 453,42 mm2, maximum 967,20 mm2,and average 719,15 mm2. Measurements minimum cross-sectional area midrib 987,5 mm2,maximum 1254,4 mm2,and average 1120,6 mm2. Measurements minimum cross-sectional area bunches in Regency University of North Sumatera949,85 mm2,maximum 2111,34 mm2, and average 1288,6 mm2. Measurements minimum cross-sectional area midrib 1920 mm2, maximum 4522 mm2, and average 3150 mm2. It can be concluded from two palm harvester design tool angle is an angle of 20˚and 30 ˚ obtain optimal force at an angle of 30 ˚ simulation and the greater the angle of the cut bunches midrib greater cutting force as well as the cross-sectional area greater cutting force is also getting bigger.

Kata kunci :
buah kelapa sawit,  
pisau pemanen kelapa sawit,
 tandan kelapa sawit, 
pelepah kelapa sawit, Ansys Workbench V 14.5

Abstract (other language): 
Telah dilakukan simulasi dan eksperimental pada alat pemanen sawit untuk mengetahui gaya yang paling optimal diterapakan dalam memanen sawit. Pisau pemanen sawit merupakan alat yang digunakan untuk memotong tandan dan pelepah kelapa sawit. Proses pemotongan memerlukan gaya potong, sudut potong, dan jarak pemotongan dengan batang kelapa sawit. Rancang bangun pisau pemanen sawit didesain menggunakan solidwork 2011 dan mensimulasikan distribusi tegangan dengan software ansys workbench 14.5. Pengukuran gaya pemanenan terhadap dua objek penelitian pemanenan di Kabupaten Mandailing Natal dan di Universitas Sumatera Utara. Hasil gaya potong pemanenan di Mandailing Natal diperoleh gaya potong minimum tandan 569 KgF, maksimum 951,6 KgF, dan rata-rata 799,1 KgF. Gaya potong minimum pelepah 981 KgF, maksimum 1657,9 KgF, dan rata-rata 1354,4 KgF. Gaya potong pemanenan di Universitas Sumatera Utara diperoleh gaya potong minimum tandan 952 KgF, maksimum 1079 KgF, dan rata-rata 1018 KgF. Gaya potong minimum pelepah 1864 KgF, maksimum 2286 KgF, dan rata-rata 2006 KgF. Pengukuran luas penampang tandan minimum di Kabupaten Mandailing Natal 453,42 mm2, maksimum 967,20 mm2, dan rata-rata 719,15 mm2. Pengukuran luas penampang pelepah minimum 987,5 mm2, maksimum 1254,4 mm2, dan rata-rata 1120,6 mm2. Pengukuran luas penampang tandan minimum di Universitas Sumatera Utara 949,85 mm2, maksimum 2111,34 mm2, dan rata-rata 1288,6 mm2. Pengukuran luas penampang pelepah minimum 1920 mm2, maksimum 4522 mm2, dan rata-rata 3150 mm2. Dapat disimpulkan dari dua desain sudut alat pemanen sawit yaitu sudut 20˚ dan 30˚ diperoleh gaya optimal secara simulasi pada sudut 30˚, dan semakin besar sudut potong tandan pelepah maka gaya potong semakin besar seperti halnya luas penampang semakin besar gaya potong juga semakin besar. *()

Keywords: Oil Palm
Knife Harvesters Oil Palm
Oil Palm Bunches
Midrib Oil Palm
Ansys Workbench V 14.5.

>>>> Silakan Download Disini

cara download
(16) Pembuatan Alat Penguji Kapasitas Adsorpsi Pada Mesin Pendingin Adsorpsi Dengan Menggunakan Adsorben Karbon Aktif.

Authors: Purba, Oloan
Abstract:
Lately adsorption refrigeration cycle more and more scrutinized by experts as well as eco-friendly and economical use of renewable energy is solar energy. In order for the process of adsorption and desorption adsorption refrigeration cycle can run well to note that the ideal number of comparisons between the adsorbent with a refrigerant used. The data can be searched using the adsorption capacity tester. Adsorption capacity tester is used equipped with a 1000 W halogen lamp as a heat source. Adsorber on this tester is made of stainless steel which aims to resist corrosion due to the variation of refrigerant used. Activated carbon is used as adsorbent materials made from coconut shell base as much as 1 kg. While variations exist 4 refrigerant used is methanol, ethanol, ammonia and Musicool. Obtained the optimum refrigerant adsorption-desorption process is methanol. Capacity that can be adsorbed methanol and desorption by activated carbon adsorbent is 275 mL.

Abstract (other language):
Akhir-akhir ini mesin pendingin siklus adsorpsi semakin banyak diteliti oleh para ahli karena disamping ekonomis juga ramah lingkungan dan menggunakan energi terbarukan yaitu energi surya. Agar proses adsorpsi dan desorpsi mesin pendingin adsorpsi dapat berjalan dengan baik perlu diketahui jumlah perbandingan yang ideal antara adsorben dengan refrigeran yang digunakan. Data tersebut dapat dicari menggunakan alat penguji kapasitas adsorpsi. Alat penguji kapasitas adsorpsi yang digunakan dilengkapi dengan lampu halogen 1000 W sebagai sumber panas. Adsorber pada alat penguji ini terbuat dari bahan stainless steel yang bertujuan agar tahan terhadap korosi akibat dari variasi refrigeran yang digunakan. Karbon aktif yang digunakan sebagai adsorben yang terbuat dari bahan dasar batok kelapa sebanyak 1 kg. Sedangkan variasi refrigeran yang digunakan ada 4 yaitu metanol, etanol, amonia dan musicool. Diperoleh refrigeran yang paling optimal pada proses adsorpsi-desorpsi adalah metanol. Kapasitas metanol yang dapat diadsorpsi dan didesorpsi oleh adsorben karbon aktif adalah sebanyak 275 mL.*()

Keywords:
Adsorption
Desorption
Adsorption
Activated carbon
Refrigerants

>>>> Silakan Dowload Disini

cara download

(17) Rancang Bangun Alat Penguji Kapasitas Adsorpsi Adsorben Alumina Aktif Terhadap Refrigeran

Authors: Ginting, Vinsensius

Abstract:
One of the factors that influence the design of the cycle of adsorption of a cooling machine is an ideal comparison between adsorbent and refrigerant. In this experiment, the use of activated alumina as adsorbent is 1 kg. Refrigerant that is used is methanol, ethanol, ammonia, and musicool. Adsorption capacity testing equipment that is used is equipped with 1000 W halogen spot light as source of heat. Adsorber that used is made of stainless steel that is meant to be resistant with corrosive nature because of the variation of refrigerant that is used and that the surface area of this absorbent is 0,07 m2 . The thing which influence the cycle of adsorption of a cooling machine is temperature, (Tadsorbant), volume, and pressure. While variations exist 4 refrigerant used is methanol, ethanol, ammonia and Musicool. Obtained the optimum refrigerant adsorption-desorption process is methanol. Capacity that can be adsorbed methanol and desorption by activated alumina adsorbent is 320 mL.

Abstract (other language):
Salah satu faktor yang mempengaruhi merancang mesin pendingin siklus adsorpsi adalah perbandingan yang ideal antara adsorben dan refrigeran. Pada penelian ini menggunakan alumina aktif sebagai adsorben sebanya 1 kg. Refrigeran yang digunakan yaitu metanol, etanol, amonia dan musicool. Alat penguji kapasitas adsorpsi yang digunakan dilengkapi dengan lampu sorot halogen 1000 W sebagai sumber panas. Adsorber yang digunakan terbuat dari bahan stainless steel yang bertujuan agar tahan terhadap korosi akibat dari variasi refrigeran yang digunakan ada pun luas penampang dari absorben ini 0,07 m2. Yang mempengaruhi sistem alat penguji mesin pendingin adsorpsi adalah temperatur (Tadsorben),volume dan tekanan. Sedangkan variasi refrigeran yang digunakan ada 4 yaitu metanol, etanol, amonia dan musicool. Diperoleh refrigeran yang paling optimal pada proses adsorpsi-desorpsi adalah metanol. Kapasitas metanol yang dapat diadsorpsi dan didesorpsi oleh adsorben alumina aktif adalah sebanyak 320 mL.

Keywords:
Adsorption
Desorption
Generator
Activated Alumina
Refrigerant

>>>> Silakan Download Disini

cara download

(18) Pengaruh Struktur Mikro terhadap Sifat Mekanis Baja Stainless Steel M303 Extra untuk Bahan Mata Pisau Pemanen Sawit.

Authors:Rukmana, Indra
Abstract:
Heat treatment is defined as a combination of heating and cooling operations are controlled in the solid state to obtain certain properties in the steel / metals or alloys. One of these is a method of heat treatment with quenching and tempering process. This process is carried out at a temperature of austenite (1000°C) for 60 minutes and then cooled with ice water and oil, then in-tempering at 300°C, 350°C, 400°C, 450°C, 500°C, 550°C, 600°C with a holding time 1 hour long. The test results showed that the optimum value is 506.6 BHN hardness after quenching in oil at a temperature of 1000°C and the tempering process average hardness gradually decreases with increasing tempering temperature. While the value of hardness after quenching with ice water at a temperature of 1000°C is 499.2 BHN and the process of tempering hardness obtained average gradually decreased with increasing tempering temperature, but at temperatures of 450°C tempering hardness obtained up 426.6 BHN. This is due to slow diffusion rate only a small fraction of carbon that was released, the result is still hard but most of the structure began to lose brittleness. Tensile test results showed that the optimum value obtained yield stress (yield strength) 1155.671 MPa and limit strength (ultimate strength) 1335.313 MPa. Fatigue test results obtained maximum fatigue strength at 313833600 N cycles for 307680 Second with 7 kg load the raw material. Decreasing grain size of the raw material 3.83 μm to 2.86 μm and 2.47 μm after quenching with oil and ice water, and after tempering average - average grain size increase gradually with increasing tempering temperature. From the research it can be concluded that the tempering process can reduce the value of hardness and tensile strength. While the results showed that the diameter of the micro-structure of granular materials exhibit decreasing grain diameter during the process of heat treatment with quenching oil. Where the greater diameter of the granules decreased mechanical properties of materials.

Abstract (other language):
Perlakuan panas (heat treatment) didefenisikan sebagai kombinasi operasi pemanasan dan pendinginan yang terkontrol dalam keadaan padat untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu pada baja/logam atau paduan. Salah satu metode perlakuan panas tersebut adalah dengan proses quenching dan tempering. Proses ini dilakukan pada temperatur austenite (1000°C) selama 60 menit kemudian didinginkan dengan oli dan air es, kemudian di-temper pada temperatur 300°C, 350°C, 400°C, 450°C, 500°C, 550°C, 600°C dengan lama waktu penahanan 1 jam. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa nilai kekerasan optimum adalah 506,6 BHN setelah quenching dengan oli pada suhu 10000C dan pada proses tempering rata – rata kekerasanya secara bertahap menurun dengan bertambahnya temperatur tempering. Sedangkan nilai kekerasan setelah quenching dengan air es pada suhu 1000°C adalah 499,2 BHN dan pada proses tempering kekerasan yang didapat rata – rata secara bertahap menurun dengan bertambahnya temperatur tempering, namun pada temperatur tempering 450°C kekerasannya naik yang didapat 426,6 BHN. Hal ini disebabkan laju difusi lambat hanya sebagian kecil karbon yang dibebaskan, hasilnya sebagian struktur tetap keras tetapi mulai kehilangan kerapuhanya. Hasil pengujian tarik memperlihatkan nilai yang optimum diperoleh tegangan luluh (yield strength) 1155,671 MPa dan tegangan batas (ultimate strength) 1335,313 MPa. Hasil pengujian Fatique diperoleh kekuatan lelah maksimum pada siklus 313833600 N selama 307680 detik dengan beban 7 kg pada raw material. Menurunnya besar butir dari raw material 3,83 μm menjadi 2,86 μm dan 2,47 μm setelah quenching dengan oli dan air es, dan setelah tempering rata – rata kenaikan besar butir secara bertahap dengan bertambahnya temperatur tempering . Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa pada proses tempering dapat menurunkan nilai kekerasan dan kekuatan tarik. Sementara hasil mikro struktur memperlihatkan bahwa diameter butiran bahan menunjukkan menurunnya diameter butiran selama proses hardening dengan quenching oli. Dimana semakin kecil diameter butiran maka sifat mekanis bahan meningkat.*()

Keywords:
Heat Treatment
Steel Stainless Steel Extra M303
Mechanical Properties
Microstructure

>>>> Silakan Download Disini

cara download
(19) Pengaruh Proses Termomekanik Terhadap Sifat Mekanis Baja Bohler K-110 Knl Extra Untuk Bahan Mata Pisau Pemanen Sawit.

Authors: Leo, Aldiansyah

Abstract:
Depormasi plastic is a metal forming process , in which the size and shape of the metal can not return to its original shape . The purpose of this study is the effect of watching hammering and the degree of deformation of the material mechanical properties such as hardness , tensile strength , and microstructure of materials. Knowing the relationship and influence of grain diameter on mechanical properties of materials . See whether the steel K - 110 which had been processed by hammering treatment possess better mechanical properties of the starting materials ( raw material) without any treatment . Improvement of mechanical properties of steel K - 110 KNL EXTRA for palm harvester blade is done by plastic deformation method using hammering.Pemanasan machine at a temperature of 700 ° C , 750 ° C , 800 ° C , 850 ° C and 900 ° C held for 1 punch a time clock to 5 seconds , 10 seconds , 15 seconds , and 20 seconds . The results of this testing are mechanical properties of high carbon steel type K - 110 KNL EXTRA with the test results obtained Hammering maximum hardness is BHN 617.8 Hammering on the process temperature 850 ° C and time blow 20 seconds. Tensile test results for the maximum value of 995.06 MPa ultimate tensile and tensile yield value ( yield ) of 680 MPa at a temperature of 850 ° C with a time of 10 seconds blow . Relationship between hardness and grain size is inversely proportional , where the smaller the grain size of the material will be the hardest . As for the relationship between tensile strength and grain size is also inversely proportional , where the larger the grain size of the material tensile strength will be smaller . The influence of the process that has been done , after having taken the optimal values are still above the results obtained from the raw material (raw material ) , so it can be concluded that the effect of the process of hammering increasmechanicalproperties.

Abstract (other language):
Depormasi plastis adalah suatu proses pembentukan logam, dimana ukuran dan bentuk logam tidak dapat kembali ke bentuk semula. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengamati pengaruh hammering dan tingkat deformasi terhadap sifat mekanis bahan seperti kekerasan, kekuatan tarik, dan struktur mikro bahan. Mengetahui hubungan dan pengaruh diameter butir terhadap sifat mekanis bahan. Melihat apakah baja K-110 yang telah diproses dengan perlakuan hammering memliki sifat mekanis lebih baik dari bahan awal (raw material) tanpa perlakuan apapun. Perbaikan sifat mekanis baja K-110 KNL EXTRA untuk mata pisau pemanen sawit ini dilakukan dengan metode deformasi plastis dengan menggunakan mesin hammering.Pemanasan pada suhu 700°C, 750°C, 800°C, 850°C dan 900°C ditahan selama 1 jam dengan waktu pukulan 5 detik, 10 detik, 15 detik, dan 20 detik. Hasil dari pengujian ini adalah Sifat mekanis baja karbon tinggi tipe K-110 KNL EXTRA dengan proses Hammering diperoleh Hasil uji kekerasan maksimum adalah 617,8 BHN pada proses Hammering dengan suhu 850°C dan waktu pukulan 20 detik. Hasil uji tarik maksimum untuk nilai tarik ultimate sebesar 995,06 Mpa dan nilai tarik yield (luluh) sebesar 680 Mpa pada suhu 850°C dengan waktu pukulan 10 detik. Hubungan antara kekerasan dan ukuran butir berbanding terbalik, dimana semakin kecil ukuran butir maka bahan akan semakin keras. Sedangkan untuk hubungan antara kekuatan tarik dan ukuran butir juga berbanding terbalik, dimana semakin besar ukuran butir maka kuat tarik bahan akan semakin kecil. Pengaruh dari proses yang telah dilakukan, setelah diambil nilai-nilai optimalnya maka hasil yang diperoleh masih diatas dari pada bahan mentahnya (raw material), sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh proses hammering menaikan sifat-sifat mekanisnya.*()

Keywords:
plastic deformation
K - 110 KNL EXTRA Steel
Mechanical Properties
Diameter Item 

>>>> Silakan Download Disini 

cara download