Kamis, 07 Februari 2013

Dewpoint in Compressed Air



Dewpoint in Compressed Air
Frequently asked questions:
1. What is dewpoint?
2. What is the difference between dewpoint and “pressure dewpoint?”
3. What is the effect of pressure on dewpoint?
4. Why is knowledge of dewpoint in compressed air important?
5. What is the typical range of dewpoint temperatures to be found in compressed air?
6. What are the standards for quality of compressed air?
7. How is dewpoint in compressed air reliably measured?
8. What are the telltale signs of a malfunctioning dewpoint sensor?
9. How often should a dewpoint sensor be checked or calibrated?

Elemen Mesin

PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan dunia industri saat ini, teknologi bidang mesin mempunyai peranan yang cukup penting. Suatu industri dikatakan sukses bila produksi industri tersebut mampu memenuhi kebutuhan pasar. Untuk meraih target produksi yang diinginkan, tentu mesin – mesin produksi harus memiliki unjuk kerja yang optimal. Dibutuhkan perancangan yang tepat untuk menghasilkan suatu mesin yang mempunyai unjuk kerja yang optimal.Sebelum  kita melakukan perancangan terhadap suatu mesin terlebih dahulu kita harus mengenal dan memahami elemen – elemen mesin yang akan bersinergi dalam suatu mesin yang dirancang.
1.    Pengertian
Elemen mesin adalah bagian dari komponen tunggal yang dipergunakan pada konstruksi mesin, dan setiap bagian mempunyai fungsi dan kegunaan yang mampu bersinergi antara satu dengan lainnya. Dengan pengertian tersebut diatas, maka elemen mesin dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.1.         Bantalan dan elemen transmisi
1.1.1.      Bantalan luncur
1.1.2.      Bantalan gelinding
1.1.3.      Poros dukung dan poros pemindah
1.1.4.      Kopling tetap& tidak tetap
1.1.5.      Rem
1.1.6.      Pegas
1.1.7.      Tuas
1.1.8.      Sabuk dan Rantai
1.1.9.      Roda gigi
1.2.Elemen - elemen transmisi untuk gas dan Liquid
1.2.1.      Valve
1.2.2.      Fittings

2.      Prinsip - Prinsip Dasar Perencanaan Elemen Mesin
Perencanaan elemen mesin, pada dasarnya merupakan perencanaan bagian (komponen), yang direncanakan dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan mekanisme dari suatu mesin.
Dalam tahap-tahap perencanaan tersebut, pertimbangan-pertimbangan yang perlu  diperhatikan dalam memulai perencanaan elemen mesin meliputi :
2.1.       Jenis-jenis pembebanan yang direncanakan
2.2.       Jenis-jenis tegangan yang ditimbulkan akibat pembebanan tersebut
2.3.       Pemilhan bahan
2.4.       Bentuk dan ukuran bagian mesin yang direncanakan
2.5.       Gerakan atau kinematika dari bagian-bagian yang akan direncanakan.
2.6.       Penggunaan komponen Standard
2.7.       Mencerminkan suatu rasa keindahan (aspek estética)
2.8.       Hukum dan ekonoomis
2.9.       Keamanan operasi
2.10.   Pemeliharaan dan perawatan
Dengan memperhatikan pertimbangan tersebut diatas, maka tahap-tahap perencanaan totalnya yaitu sbb :
2.1.       Menentukan kebutuhan
2.2.       Pemilihan mekanisme
2.3.       Beban mekanisme
2.4.       Pemilihan material
2.5.       Menentukan ukuran
2.6.       Modifikasi
2.7.       Gambar kerja
2.8.       Pembuatan dan kontrol koalitas

Yang dimaksud dengan tahap perencanaan tersebut diatas :
2.1.    Menentukan kebutuhan
Menentukan kebutuhan dalam hal ini adalah kebutuhan akan bagian- bagian yang akan direncanakan, sesuai dengan fungsinya
2.2.    Pemilihan mekanisme
Berdasarkan fungsinya dipilih mekanisme yang tepat dari bagian mesin tersebut. Misalnya untuk memindahkan putaran poros keporos yang digerakan dipilih roda gigi payung.
2.3.    Beban mekanis
Berdasarkan mekanisme yang telah ditentukan, beban-beban mekanis yang akan terjadi harus dihitung berdasarkan data yang sesuai dengan kebutuhan, sehingga didapat jenis-jenis pembebanan yang bekerja pada elemen tersebut.
2.4.    Pemilihan bahan (material)
Untuk mendapatkan bagian mesin yang sesuai dengan kekuatannya, dilakukan pemilihan bahan dengan kekuatan yang sesuai dengan kondisi beban serta tegangan yang terjadi. Misalnya kekuatan direncanakan harus lebih kecil dari kekuatan bahan yang ditentukan dengan faktor keamanan sesuai dengan kebutuhan.
2.5.    Menentukan ukuran
Bila terjadi kesesuaian pemakaian bahan dan perhitungan beban mekanis dapat dicari ukuran-ukuran elemen mesin yang direncanakan dengan standart yang ada dalam standarisasi.
2.6.    Modifikasi
Modifikasi bentuk diperlukan bila bagian mesin yang direncanakan telah pernah dibuat sebelumnya.
2.7.    Gambar Kerja
Setelah mendapatkan ukuran yang sesuai, ukuran untuk pengambaran kerja didapat, baik gambar detail maupun gambar assemblynya.
2.8.    Pembuatan kontrol kualitas
Dengan gambar kerja dapat dibuat bagian-bagian mesin yang dibutuhkan, dengan mencatumkan persyaratan suaian, toleransi serta tanda pengerjaan, ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pembuatan suaian dengan yang diinginkan. Dari penentuan suaian yang telah ditetapkan tersebut dapat digunakan sebagai pedoman kontrol kualitas yang disyaratkan

3.        Faktor Keamanan
Faktor keamanan adalah faktor yang digunakan untuk mengevaluasi keamanan dari suatu bagian mesin.
       3.1.    Faktor keamanan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
3.1.1.   Variasi sifat-sifat bahan
3.1.2.   Pengaruh ukuran dati bahan yang diuji kekuatannya
3.1.3.   Jenis beban
3.1.4.   Pengaruh permesinan dan proses pembentukan
3.1.5.   Pengaruh perlakuan panas terhadap sifat fisis dari material
3.1.6.   Pengaruh pelumasan dan umur dari elemen mesin
3.1.7.   Pengaruh waktu dan lingkungan dimana peralatan tersebut dioperasikan
3.1.8. Syarat-syarat khusus terhadap umur dan ketahanan uji mesin
3.1.9.   Keamanan manusia secara keseluruhan harus diperhatikan
3.2.       Penggunaan Faktor Keamanan
Penggunaaan faktor keamanan yang paling banyak terjadi bila kita membandingkan tegangan dengan kekuatan, untuk menaksir angka keamanannya.3 Katakanlah, sebuah elemen mesin diberi effek yang kita sebut sebagaiF. Kita umpamakan bahwaF adalah suatu istilah yang umum, dan bisa saja berupa suatu gaya, momen puntir, momen lentur, kemiringan, lendutan, atau semacam disorsi. KalauF dinaikkan, sampai suatu besaran tertentu, sedemikian kalau dinaikkan sedikit saja, akan mengganggu kemampuan mesin tersebut, untuk melakukan fungsinya secara semestinya. Kalau kita nyatakan batasan ini, sebagai batas akhir, hargaF sebagaifu , maka faktor keamanan dapat dinyatakan sebagai : BilaF sama dengan Fu, n=1, dan pada saat ini tidak ada keamanan sama sekali. Akibatnya sering dipakai istilah batas keamanan (margin of safety). Batas keamanan dinyatakan dengan persamaan. Istilah faktor keamanan dan batas keamanan banyak dipakai dalam praktik industri, yang arti dan maksutnya diketahui jelas. Begitupun, istilahFu dalam persamaan (1-1), adalah istilah yang terlalu umum untuk semua jenis kegiatan, merupakan angka tersendiri yang secara statistik bervariasi. Karena alasan ini, suatu faktor keamanan dengann > 1tidak.

 

Jumat, 01 Februari 2013

Jurnal Jar Test



EFEKTIVITAS PATI-FOSFAT DAN ALUMINIUM SULFAT
SEBAGAI FLOKULAN DAN KOAGULAN
Amilia Linggawati*, Muhdarina, Harapan Sianturi
Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Riau

ABSTRACT
The combination of Aluminium sulphate (3500 ppm) and phosphate starch (500 ppm) is effective as flocculant and coagulant of wastewater treatment at CMTF 7F-83, Minas SBU. Flocculant and coagulant ability on this particular condition were able to decrease wastewater turbidity up to 99.96% (from 9200 NTU to 4NTU), TSS up to 88.24% (1700 mg/l to 200 mg/L), TDS up to 53.52% (from 7100 mg/l to 3300 mg/l) and pH up to 41.69%, from 11,02 into 6.42. The particular flocculant was able to increase floc diameter for about 350-400% (d1 into d5), while the sedimentation velocity is 41.5992-93.5982 cm/s. According to KEPMENLH/ 42/MENLH/10/1996, the final wastewater pH is acceptable for the liquid pollution quality standard. The result of TSS and TDS analysis shows the acceptable value for the liquid pollution standard for industry (KEP-51/MENLH/10/1995).
Keywords: coagulant, CMTF 7F-83 MINAS, flocculant

Jurnal Nitrat-nitrit




KERACUNAN NITRAT-NITRIT PADA HEWAN

SERTA KEJADIANNYA DI INDONESIA
YUNINGSIH
Balai Penelitian Veteriner
ABSTRAK
Nitrat dapat ditemukan di alam, misalnya dalam tanaman, pupuk, dan dalam air. Terjadinya keracunan nitrat-nitrit pada hewan sebagai akibat yang mengkonsumsi tanaman yang mengandung nitrat tinggi, sehingga terjadi reaksi reduksi, bakteri rumen mereduksi nitrat menjadi nitrit yang bersifat toksik pada hewan. Bila nitrit diabsorpsi dalam darah akan mengakibatkan perubahan haemoglobin (Hb) menjadi methaemoglobin (MetHb) yang tidak dapat mengambil oksigen sehingga menyebabkan hipoksia dengan jumlah MetHb mencapai 20-30%. Apabila keadaan ini terus berlanjut perubahan MetHb dapat mencapai 80%-90% dan dapat menyebabkan kematian bagi hewan. Perubahan MetHb yang cukup tinggi dapat juga dicirikan dengan perubahan darahnya, dari warna merah (normal) menjadi kecoklatan, sebagai ciri yang spesifik dari keracunan nitrat-nitrit. Beberapa kasus keracunan nitrat-nitrit yang terjadi di Bogor, Bandung, Sukabumi, Jakarta, dan Kupang dari tahun 1992-1997 akibat mengkonsumsi rumput yang mengandung nitrat tinggi dan menyebabkan kematian pada hewan zebra, sapi perah, kuda, domba, dan itik. Secara berurutan pada masing-masing pakan hewan tersebut terdapat 6.250, 8.000, 2.000, 5.000 mg/kg nitrat dan 10 mg/kg nitrit.

Jurnal Nutrient



Kandungan Zat Hara dalam Air Poros dan Air Permukaan
Padang Lamun Bintan Timur Riau
Jurusan Ilmu Kelautan, Faperika, Universitas Riau
ABSTRACT
Study on the nutrients content of seagrass bed of East Bintan was carried out in July and August 2002. The purpose of this research was to describe the characteristics of nutrients content in porewater and surface water of seagrass bed. Dissolved ammonia, nitrate or nitrite and phosphate in the porewater and surface water in seagrass bed were analyzed. The methods were spectrophotometry. In general, the nutrient in the surface water and porewater in Sungai Jang estuary was lower compared to that of the open coastal. The concentrations of nutrient in the porewater was higher than that surface water of seagrass bed. The ammonia, nitrate/nitrite and phosphate concentrations amongst that area of segrass bed varied. Physicochemical parameters (temperature, current velocity, transparance, salinity, pH, and dissolved oxygen) were also measured.

Jurnal Ruminansia,nitrat



KERACUNAN NITRAT-NITRIT PADA TERNAK
RUMINANSIA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA
Yuningsih
Balai Besar Penelitian Veteriner, Jalan R.E. Martadinata No. 30, Kotak Pos 151, Bogor 16114
ABSTRAK
Keracunan nitrat merupakan masalah utama pada ternak ruminansia. Keracunan disebabkan ternak mengkonsumsi hijauan yang mengandung nitrat tinggi akibat pemupukan. Di dalam rumen, nitrat akan direduksi menjadi nitrit yang toksik. Jika diabsorpsi darah, nitrit akan mengubah pembentukan Hb (Fe2+) menjadi MetHb (Fe3+) dalam darah sehingga darah tidak mampu membawa oksigen. Akibatnya jaringan kekurangan oksigen (hypoxia). Bila kandungan MetHb dalam darah mencapai 80−90% maka ternak akan mati. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diketahui proses keracunan nitrat pada ternak dengan menganalisis kandungan nitrat dalam pakan (hijauan) dan air minum. Perlu pula mendiagnosis keracunan nitrat berdasarkan gejala yang timbul dan menganalisis kandungan nitrat dalam pakan. Pengobatan keracunan nitrat pada ternak dilakukan dengan menginjeksikan larutan methylene blue untuk mereduksi MetHb menjadi Hb. Pencegahan yang utama ialah dengan memantau kandungan nitrat dalam hijauan sebelum diberikan pada ternak.